Pengalaman Memulai Investasi Reksadana

Diposting pada

Beberapa dari kalian membaca tulisan ini karena mulai mencari apakah reksadana bukan investasi bodong, ingin memulai investasi di reksadana tapi masih ragu-ragu, dan memang sudah ber-investasi. Saya memulai menaruh uang pertama kali pada bulan Januari 2019. Kalau dihitung saat ini saya sudah berinvestasi selama 1 tahun. 🙂

Pengalaman memulai belajar investasi reksadana
Sumber: Pixabay

Alasan saya memilih reksadana?

Saya mulai ke poin yang paling penting saja, karena jika saya membahas apa itu reksadana tentu  tulisan ini tidak akan muncul di pencarian kalian. Sudah ada halaman blog atau website besar lainnya di halaman utama google :-P.

Pindah tempat kerja, di bulan kedua kantor mengadakan seminar kecil yang berjudul “Karyawan Produktif Cerdas Finansial”, saya sangat tertarik tapi tidak tahu materi apa yang akan disampaikan pembicara. Sesi awal ditanya kemana alokasi gaji, dari kami semua mayoritas menjawab menabung dan investasi ke emas. Saya merupakan salah satu yang menjawab emas, memang benar saat pertengahan tahun 2018 saya mulai mengalokasi 10% gaji untuk menabung emas di IndoGold dan tentu hasilnya sudah terlihat saat itu.

Pembicara mengatakan bahwa investasi emas merupakan pilihan tepat untuk kita yang investasi jangka panjang dan terlihat kuno (karena emas memang investasi dari dulu jaman nenek buyut kita). Dia akan memberi tips investasi yang lebih menguntungkan untuk karyawan yang sibuk bekerja seperti saya dan tetap investasi untuk masa depan seperti keperluan saat menikah dan masa depan anak.

Mulailah Si Pembicara mengeluarkan kalkulator investasi dalam bentuk excel, Dia menghitung persiapan pendidikan anak saat mulai masuk universitas. Hitung-hitungan saat itu mencapai ratusan juta dan saya pun terdiam dan berpikir darimana nanti dapat uang segitu banyak untuk anak saya?

Nah sesi kedua mulailah diberi tips dan trik cara investasi agar kebutuhan jangka penjang tersebut bisa terpenuhi. Kalau gak salah saat itu waktu investasi yang kita hitung adalah 17 tahun dan uang yang perlu disisihkan hanya 100ribuan. Mulai senyum nih saya sambil berpikir kembali, wah bisa yah gitu? makin excited mengikuti seminar ini.

Mulailah diperkenalkan reksadana dan kenapa reksadana, ini pertama kali saya mendengar kata reksadana karena sebelumnya hanya mengenal emas dan saham. Disana dijelaskan jenis reksadana dan apa itu MI (manajer Investasi).

Apa yang perlu disiapkan sebelum mulai investasi reksadana?

Uang yang cukup

Untuk memulai reksadana kalian tidak perlu uang yang banyak, saat ini hanya dengan Rp 10.000 kalian sudah bisa memulai. Hanya saja, perlu saya garis bawahi kalian juga perlu dana darurat di rekening tabungan yang tidak masuk dalam investasi. Saat seminar tersebut sarannya minimal dana darurat 2x penghasilan kalian perbulan, lebih banyak lebih baik.

Kita tidak tahu kapan musibah datang, kesehatan yang mungkin terganggu sehingga perlu dana cepat untuk berobat. Jika semua masuk reksadana kalian perlu waktu untuk mencairkan dan tujuan kalian investasi jadi batal karena sudah ditarik lebih dulu.

Jika sudah selesai hitung-hitungan, kalian sudah tahu berapa persen yang akan diinvestasikan. Tahap ini sangat penting dan setiap orang memiliki kapasitas masing-masing.

Tujuan yang jelas

Tujuan tidak kalah penting, dengan memiliki tujuan kalian akan lebih fokus dan konsisten. Nah tujuan ini juga akan menentukan jenis reksadana mana yang cocok. Berikut pilihan yang pada umumnya disarankan:

  1. Reksadana Pasar Uang (RDPU) : untuk tujuan investasi rentang 1 tahun
  2. Reksadana Obligasi: untuk 1-3 tahun
  3. Reksadana Saham: > 5 tahun

Nah untuk lebih jelas silahkan kalian cari tahu apa saja jenis reksadana, resiko dan keuntungan masing-masing jenis reksadana di atas.

Tujuan atau target ini menentukan profik risiko yang akan kalian ambil.

Rekening Tabungan

Saat mendaftar reksadana kalian perlu upload e-ktp dan buku tabungan (nama harus sama). Saran saya buatlah rekening bank BCA, karena sebagian besar MI bekerjasama dengan BCA sebagai bank penampung. Gunanya kalian tidak kena biaya transfer antarbank, namun beberapa aplikasi penyedia reksadana sudah mendukung pembayaran dengan Go-Pay dan LinkAja.

Mental dan Risiko

Karena sudah terbiasa melihat harga emas naik turun secara drastis, bahkan sekarang beli besok harganya turun. Saya merasa mental sudah mulai terbiasa, bahkan saat artikel ini dibuat salah satu alokasi reksadana saya sedang minus jutaan rupiah. Karena memilih reksadana saham dimana sangat fluktuatif jadi saya santai saja dan lebih yakin ini jangka panjang akan membaik.

Untung Banyak = Risiko Besar (High Risk High Return)

Kata-kata di atas harus benar-benar kalian pahami, dalam investasi apapun selalu ada kemungkinan kalian kehilangan segalanya dan untung berkali-kali lipat. Namun dalam reksadana sudah dikelola oleh manajer investasi yang profesional, walaupun tidak memastikan kalian untung tapi mereka akan melakukan yang terbaik. Ini mengenai reputasi MI dan perlindungan investor.

Jangan terburu-buru, baca sebanyak-banyaknya dan tonton video mengenai reksadana di YouTube. Ini saya lakukan bahkan sampai sekarang. Saya paham terjun langsung ke saham akan membuat untung lebih banyak, saya sudah mencobanya dengan membeli saham BRI pertengahan tahun dan menjual dengan untung lumayan di akhir tahun. Kenapa tidak lanjut? saya belum terlalu paham resikonya, belum bisa membaca laporan perusahaan, dan apa yang dilakukan jika pasar lagi tidak bagus. Itu menggangu pekerjaan saya dan menguras otak juga.

Memilih aplikasi APERD (Agen Penjual Efek Reksa Dana)

Nah yang satu ini tidak kalah penting, saat mengikuti seminar saya di demokan salah satu APERD yang sudah lumayan lama menjual reksadana. Saya mencoba meng-install dan melihat apa isi didalamnya, dan setelah itu saya bingung karena tidak paham apa isinya. 🙂

Walaupun sudah mengunduh aplikasi tersebut saya tidak langsung memulai, saya lebih fokus untuk memahami dulu istilah-istilah dalam reksadana. Seperti jenis reksadana, cara kerja MI, AUM, Exit Load, Return, Risk, dan embel-embel lainnya. Ini penting karena aplikasi akan menggunakan istilah tersebut.

Setelah beberapa hari, ketemulah saya dengan aplikasi namanya Bibit. Saat itu aplikasi ini lagi gencar-gencarnya promo karena ini aplikasi baru dan tampilannya sangat user friendly, sebagai orang awam aplikasi ini mudah digunakan dan istilah penting ada tombol bantuan untuk memahami artinya.

Tampilan Aplikasi Bibit (Investasi Reksadana)

Saat ini aplikasi bibit lagi mengadakan promo, jika kalian mendaftar sekarang gunakan kode AYOINVEST dan dapatkan cashback sebesar Rp 50.000

Aplikasi ini memiliki banyak fitur, seperti:

  1. Robo Advisor, saat mendaftar kalian akan diberi beberapa pertanyaan seperti umur, sudah menikah atau belum, pendapatan bulanan, nilai total uangmu sekarang dan pertanyaan lainnya. Robot ini akan mapping profil resiko kalian dan memetakan seberapa besar alokasi di pendapatan tetap, obligasi dan saham. Ini luar biasa, nilai tambah untuk aplikasi Bibit
  2. Pembayaran yang mudah, kalian bisa menggunakan transfer manual, pembayaran instant dengan Go Pay dan LinkAja. Asalakan nama kalian sesuai dengan yang didaftarkan. Ini sangat memudahkan saya yang tidak menggunakan internet banking 🙂
  3. Blog yang berkualitas, aplikasi ini menyuguhkan artikel-artikel yang menurut saya ditulis dengan sangat hati-hati dan bermanfaat bagi investor. Selain ber-investasi kalian juga diajarkan manajemen keuangan yang baik, pemahaman mengenai risiko dan masih banyak lagi. Yang penting kalian suka baca saja.

Menurut saya itu saja yang menarik dari aplikasi ini, sisanya sama saja dengan aplikasi APERD lainnya. Ohh ya satu lagi kata CEO-nya produk reksadana di bibit diseleksi dengan sangat baik. Jadi mereka hanya memajang MI yang memiliki track record yang terbukti. Saya selaku investor jadi merasa aman dalam berinvestasi.

Diluar aplikasi, bibit memiliki komunitas yang besar. Saat artikel ini saya buat di group telegram sudah tergabung 13ribuan anggota yang sering berbagi pengalaman, keluh kesah, untung jutaan dan ada juga yang sedang rugi. Ini membuat saya tambah yakin bibit merupakan aplikasi yang patut saya rekomendasikan untuk kalian semua.

Perubahan yang terjadi setelah mulai belajar investasi

belajar investasi dan pola pikir investor
Sumber: Pixabay

Tahun ini merupakan tahun kedua saya sebagai investor, saya masih konsisten kedepannya dan terus belajar. Investasi ini mulai membuka luas pikiran saya. Berikut perubahan yang terjadi kepada saya setelah belajar investasi:

Investasi yang terbaik adalah pada diri kita sendiri

Seperti peningkatan skill semakin tekun mempelajari bidang pekerjaan saya dengan melakukan latihan dan membeli video kursus programming. Menjaga kesehatan dengan olahraga secara teratur (belum bisa konsisten). 😛

Buku adalah jendela dunia

Mulai senang membaca buku, buku yang saya baca mengenai teknik pemasaran dan branding. Saya tidak yakin bisa ngoding sampai tua nanti, ini bertujuan setidaknya nanti saya punya opsi pekerjaan lain.

Membeli barang sesuai kebutuhan dan fungsinya

Saya menyampingkan semua keinginan membeli barang mewah. Seperti iPhone seri terbaru 🙁 walaupun teman saya sudah membelinya dan saya melihatnya langsung. Saya merasa iPhone yang saya gunakan saat ini masih berfungsi dengan baik, jadi saya menundanya. Ini terus terjadi setiap saya membeli sesuatu, pertimbangan seperti apakah barang ini berguna, tidak menghabiskan waktu saya dan yang pasti harus meningkatkan produktivitas.

Show off hanya kepuasan semata dan deritanya hanya kita yang tahu, pertimbangkan kembali membeli barang mewah dan hitung nilai jualnya 3-5 tahun kedepan. Bukan berarti tidak boleh membeli barang mewah, jika itu akan menambah pendapatan kalian maka segeralah beli. Misalkan kalian ingin membeli mobil yang nanti digunakan untuk kerja sampingan sebagai driver online.

Menabung atau investasi tidak menjamin kekayaan, tingkatkan penghasilan dan mulai belajar bisnis

Saya sadar kalau dengan menghemat dan ber-investasi tidak menjamin kekayaan, jalan lain yang perlu saya tempuh adalah meningkatkan penghasilan dan belajar bisnis. Mencari pekerjaan tambahan setelah pulang kantor menjadi alternatif, berusaha untuk menginvestasikan semua gaji yang diterima dari kantor dan menggunakan gaji dari kerja sampingan untuk bertahan hidup.

Agar penghasilan terus bertambah kalian perlu meningkatkan nilai jual (skill), sebagai programmer saya harus terus belajar agar tidak tertinggal. Walaupun saat ini semakin sulit membagi waktu antara kerja dan belajar. Maka dengan itu saya mulai mencari teman dan bisnis software sudah berjalan hampir 3 tahun. Semoga kedepannya semakin banyak tawaran kerja di luar agar bisa lepas dari kerja kantoran.

Reksadana bukan opsi terakhir belajar investasi

Saatnya membuka mata, reksadana bukan satu-satunya jenis investasi yang bisa kalian lakukan. Diluar sana ada banyak yang bisa kalian coba, yang pasti pahami resikonya, paham dimana kalian menaruh uang, liat prospek kedepan dan konsisten.

Itulah pengalaman saya belajar investasi reksadana, semoga bermanfaat dan doakan saya semakin cuan :-*